2019-10-25

Bercinta Dengan Tante Hypersex dan Anaknya

Bercinta Dengan Tante Hypersex dan Anaknya
Agen Poker Online - Panggil saja aku Alvin, panggilan sehari-hari selagi aku bukan anak bontot. Aku murid SMU kelas 3. Aku tinggal di perumahan di Jakarta. Daerahnya mirip-mirip di PI deh, tapi bukan perumahan Or -kay kok. Sekitar beberapa bulan yang lalu, rumah kontrakan kosong di sebelah kiri rumahku ditempati oleh keluarga baru. Awalnya mereka kelihatan aneh, namun sekitardua minggu kemudian mereka sudah berteman dengan tetangga? Ternyata penghuninya seorang wanita dengan perdebatanku berumur 30-an, anak perempuannya dan seorang PRT. Nama lengkapnya aku tidak tahu, namun nama panggilannya Tante Yuli.

Anaknya bernama Devi, sepantaran denganku, siswi smu kelas 3. Ternyata Tante yuli adalah janda seorang bule jika tidak salah asal prancis. Sikapnya ramah gampang di ajak ngobrol tapi. yang paling utama adalah penampilanya yang diundang. Rambutnya ikal di bawah telinga. Kulitnya coklat muda.Bodinya tidak langsing kalau dilihat terus, malah jadi seksi. Payudaranya juga besar. Taksiranku sekitar 36-an.

yang membikin di undang adalah Tante yuli yang sering mengenakan baju tanpa lengan dengan celana pendek  sekitar empat jari dari lutut.kalau duduk celananya nampak sempit oleh pahanya. 
wajahnya tidak cantik ? cantiknya sekali wajah khas indonesia, tipe yang disuka orang-orang bule. Seperti bodinya, jika bajunya agak "terbuka", malah jadi muka? Muka ranjang gitu deh. Dari cara memilihnya aku mengira kalau Tante Yuli itu hypersex. Kalau Devi, kebalikan izin. Wajahnya cantik Indo, dan kulitnya putih. Rambutnya hitam kecoklatan, belah pinggir sebahu. Meski buah dadanya tidak terlalu besar, kecocokan pakaiannya membuat Devi jadi seksi. Sepertinya saya terserang.

Berhari-hari berlalu, nafsuku melawan Tante Yuli semakin bergolak sehingga aku lebih sering ngumpet di balik semak-semak, terus sambil melihati Tante Yuli jika sedang di luar rumah. Tapi terhadap Devi, nafsuku hanya sedikit, itu juga karena kecantikannya dan kulit putihnya. Nafsu besarku kadang-kadang membuatku ingin menunjukkan batangku di depan Tante Yuli dan onani didepan dia.

Pernah sesekali kujalankan niatku, namun pas Tante Yuli lewat, buru-buru kututup "anu" -ku dengan baju, karena takut tiba-tiba Tante Yuli melapor sama ortu. Tapi, lakukan berbeda. Tante Yuli menentang menyapaku, (dan kusapa membelakangi sambil membantahku), dan pas di depan pagar rumah, ia tersenyum sinis yang menjurus ke senyuman nakal. “Ehem .. hmm ..” dengan sorotan mata nakal pula. Sejenak aku terbengong dan menghabiskan ludah, dan malah malah menambahkan nafsu.

Kemudian, pada suatu waktu, kuingat sekali itu hari Rabu. Saat aku pulang kuliah dan mau membuka pagar rumah, Tante Yuli menyambutku dengan lembut, “De, ini dulu .. Tante bikinin makanan nih buat papa-mamamu.” Langsung saja kujawab, “Ooh, iya Tante ..” Nafasku langsung memburu, dan gali gali gali. Setengah batinku takut dan ragu ragu,


setengahnya lagi menentang menyuruh membicarakan "mengundang" Tante Yuli. Tante Yuli memakai baju tanpa lengan hijau muda, dan celana pendek hijau muda juga. Setelah masuk ke ruang tunggu, ternyata Tante Yuli hanya keluar, katanya pembantunya lagi belanja. Keadaan tersebut membuatku semakin menggali gali. Tiba-tiba tante memanggilku dari arah dapur, “De, sini nih .. makanannya.” Memang benar sih, ada beberapa piring makanan di atas baki sudah Tante Yuli susun.

Saat aku mau mengangkat bakinya, tiba-tiba tangan kanan Tante Yuli mengelus pinggangku sementara tangan kirinya mengelus punggungku. Tante Yuli lalu menerima pipiku sambil berkata, De, mm .. kamu .. nakal juga yah berbalik .." Dengan tergagap-gagap aku berbicara, "Emm .. ee .. nakal gimana sih Tante?" . “Hmm hmm .. pura-pura nggak inget yah? Kamu nakal .. titit ngeluarin, udah gitu ngocok-ngocok ..

Tante Yuli pulih bicaranya sambil meraba-raba pipi dekat bibirku. Kontan saja aku tambah gagap plus kaget karena Tante Yuli ternyata mengetahuinya. Itu sebabnya dia tersenyum sinis dan nakal waktu itu. Aku menambahkan gagap, “Eeehh? Eee .. itu .. ”Tante Yuli langsung memotong sambil berbisik sambil terus mengelus pipiku dan bahkan pantatku. “Kamu mau yah sama Tante? Hmm? ”Tanpa banyak omong-omong lagi,

Ternyata benar dugaku, Tante Yuli hypersex. Aku tidak mau kalah, kubalas segera ciumannya ke bibir tebal seksinya itu. Lalu kusenderkan diriku di tembok sebelah wastafel dan kuangkat pahanya ke pinggangku. Ciuman Tante Yuli sangat fleksibel dan bertempo cepat.Kurasakan bibirku dan sebagian pipiku basah karena dijilati oleh Tante Yuli. Pahanya yang tadi kuangkat kini menggesek-gesek pinggangku. Akibat tambahnya ciuman Tante Yuli, nafsuku menjadi bertambah.


Kumasukkan kedua tanganku ke belakang bajunya di punggungnya seperti memeluk, dan kuelusi punggungnya. Saat kuelus kembalinya, Tante Yuli mendongakkan pengembalian dan terengah. Sesekali tanganku tentang tali BH-nya yang kemudian terlepas karena gesekan tanganku. Kemudian Tante Yuli mencabut bibirnya dari bibirku, menyudahi ciuman dan mengajak ku untuk ke kamarnya.

Kami buru-buru ke kamarnya karena sangat bernafsu. Aku sampai tidak memperhatikan bentuk dan isi kamarnya, langsung direbah oleh Tante Yuli dan memulihkan ciuman. Posisi Tante Yuli adalah posisi senggama kesukaanku yaitu nungging. Ciumannya benar-benar misterius. Kumasukkan tanganku ke celananya dan aku langsung mengelus pantatnya. Tante Yuli yang hyper itu langsung melucuti kaosku dengan agak cepat. Tapi setelah itu ada adegan baru yang belum pernah kulihat di film semi atau di BF manapun. Tante Yuli meludahi dada-ku dan menjilatinya kembali. Sesekali saya suka ngompol lidah Tante Yuli tentang pusarku.

Saat aku mencoba mengangkat kepalaku, kulihat bagian leher kaos, Yuli kendor, jadi buah dadanya yang bergoyang-goyang terlihat jelas. Kemudian kupegang kupangnya dan kupindahkan posisinya ke bawahku. Lalu, kulucuti kaosnya juga beha nya, kulanjutkan menghisapi puting payudaranya. Nampak Tante Yuli kembali didongakkan dan menerima hadiah tengah namaku.

Sambil terus menghisap dan menjilati payudaranya, kulepas celana panjangku dan celana dalamku dan kubuang ke lantai. Ternyata pas kupegang "anu" -ku, sudah ereksi dengan level maksimum. Sangat keras dan kompilasi kukocok-kocok sesekali tentang dan menggesek urat-uratnya. Tante Yuli pun melepaskan celana-celananya dan mengelusi bulu-bulu dan lubang vaginanya. Ia juga meraup sedikit mani dari vaginanya dan memasukkan jari-jari tersebut ke mulutku.


Aku langsung kehilangan kepalaku dan menjilati daerah “bawah” Tante Yuli. Rasanya agak seperti asin-asin ditambah lagi cairan yang keluar dari lubang “anu” -nya Tante Yuli. Tapi tetap saja aku menikmatinya. Di tengah enaknya menjilat-jilati, ada suara seperti pintu terbuka namun terdengar tidak begitu jelas. Aku takut ketahuan oleh pembantunya atau Devi.

Sejenak aku berhenti dan ngomong sama Tante Yuli, “Eh .. Tante ..” Ternyata tante membalikkan “adegan” dan berkata, “Ehh .. bukan siapa-siapa .. egghh ..” sambil mendesah. Posisiku kini di bawah lagi dan sekarang Tante Yuli sedang menghisap “lollypop”. Ereksi kusemakin kompilasi maksimal bibir dan lidah Tante Yuli memanggil bagian-bagian batangku. Tante Yuli mengulangi adegan meludahi kembali. Ujung penisku diludahi dan sekujurnya dijilati perlahan.

Bayangkan, bagaimana ereksiku tidak tambah maksimum ?? Tak lama, Tante Yuli yang tadinya nungging, ganti posisi berlutut di atas pinggangku. Tante Yuli menyetujui melakukan senggama. Aku kagum dan bengong melihat Tante Yuli dengan penuh perhatian dan mengarahkan penisku ke lubangnya layak film BF saja. Tapi setelah ujungnya masuk ke liang senggama,

Tante mulai menggoyangkan dengan arah atas. Aku masih sangat senang meskipun Tante Yuli sudah tidak perawan. Di dalam liang itu, aku puas adacairan hangat di batang jujurku. Sambil kugoyangkan juga badanku, kuelus pinggangnya dan sesekali buah dadanya kuremas-remas. Tante Yuli juga mengelus-elus dada dan pinggangku sambil terus bergoyang dan melihatiku dengan tersenyum.


Mungkin karena nafsu yang besar, Tante Yuli bergoyang sangat cepat dan tidak beraturan apakah itu maju-mundur atau atas. Sampai-sampai sesekali aku mendengar suara "Ngik ngik ngik" dari kaki ranjangnya. Akibat bergoyang sangat cepat, tubuh Tante Yuli berkeringat. Segera kuelus badannya yang berkeringat dan tanganku yang penuh keringat dia itu.

Lalu posisinya berganti lagi, jadinya aku bersandar di ujung ranjang, dan Tante Yuli melengkapi pahaku. Jadinya, aku bisa dengan mudah menciumi dada dan payudaranya. Juga kujilati yang sedikit berkeringat itu, lalu aku menggesekkan tubuhku yang juga sedikit berkeringat kedada Tante Yuli. Tidak kupikirkan waktu itu jika yang kujilati adalah keringat karena nafsu yang terlalu meledak. Tak lama, aku merasa akan ejakulasi.

Ehh .. Tante .. uu .. udaahh ..” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Tante Yuli sudah setengah berdiri dan nungging di depanku. Tante Yuli mengelus-elus dan mengocok penisku, dan mulutnya sudah ternganga dan lidahnya menjulur siap menerima semprotan spermaku. Karena kocokan Tante Yuli, aku jadi ejakulasi. "Crit .. crroott .. crroott .. ”Ternyata semprotan spermaaku kuhitung sampai sekitar tujuh kali dimana setiap kencrotan itu mengeluarkan sperma yang putih, kental dan banyak. Sekilas tentang kencrotannya, dan tentang rambut Tante Yuli. Mungkin ada juga yang jatuh ke sprei. Sekali film BF.


Kulihat wajah Tante Yuli sudah penuh dengan sperma putih kental milikku. Tante Yuli yang memanghyper, meraup spermaku baik dari memilih atau dari sisa di sekujur batangku, dan memasukkan ke mulutnya. Setelah itu, aku sangat lemas. Staminaku terkuras oleh Tante Yuli. Aku langsung rebahan sambil memeluk Tante Yuli sementara penisku masih berdiri namun tidak sekeras tadi.

Sekitar minggu lalu setelah ML sama Tante Yuli. Siang itu aku sedang ada di rumah hanya bersama pembantu (orang tuaku pulangnya  malam, adikku juga sedang sekolah). Sekitar jam satu-an, aku yang duduk di kursi malas teras, melihat Tante Yuli mau pergi entah kemana dengan mobilnya. Kulihat Devi menutup pagar dan ia tidak melihatku. Sekitar 10 menit kemudian, telepon rumahku berdering. Saat kuangkat, ternyata Devi yang dipanggil. Nada suaranya agak ketus, menyuruhku ke Rumah. Katanya ada yang ingin diomongin.

Di ruang bicara, aku duduk berhadapan sama Devi. Wajahnya tidak seperti biasanya, terlihat jutek, judes, dan sebagainya. Berhubung dia seperti itu, aku jadi salah tingkah dan bingung mau ngomong apa.

Tak lama Devi mulai bicara duluan dengan nada ketus kembali,
Vin, gue mau tanya!
Hah? Nanya apaan? Aku kaget dan agak dag menggali.
Loe waktu minggu lalu ngapain sama nyokap gue? Dia nanya langsung tanpa basa-basi.

Ehh .. minggu yang lalu? Kapan Ngapain emangnya? 

Aku pura-pura tidak tahu dan takutnya dia mau melaporkan ke orang tuaku.
Aalahh .. loe nggak usah belagak bego deh .. Emangnya gue nggak tau? Gue baru pulang sekolah, gue liat sendiri pake mata kepala gue .. gue intip dari pintu, loe lagi buat nyokap gue !!

Seketika aku langsung kaget, bengong, dan mau tahu lagi mau ngapain, badan sudah mati rasa. Batinku berkata, "Mati gue .. bisa-bisa gue diusir dari rumah nih .. nama baik ortu gue bisa jatoh .. mati deh gue.Devi pun masih berhasil omongannya.

Loe napsu sama nyokap gue ??
Devi kemudian berdiri sambil tolak pinggang. Matanya menatap sangat tajam. Aku cuma bisa diam, bengong tidak bisa ngomong apa-apa. Keringat di leher mengucur. Devi menghampiriku yang hanya duduk diam kaku masih dengan tolak pinggang dan tatapan tajam. Pipiku sudah siap menerima tamparan atau tonjokan namun untuk hal dia akan melaporkannya ke orang tuaku dan aku diusir tidak bisa aku pecahkan.

 Tapi, sekali lagi kenyataan sangat berbeda. Devi yang memakai kaos terusan yang mirip daster itu, melepaskan ikatan di punggungnya dan membuka kaosnya. Ternyata ia tidak mengenakan beha dan celana dalam. Jadi di depanku adalah Devi yang bugil. Takutku kini semakin bertambah. “Kalo gitu, loe mau juga kan sama gue? Devi langsung mendekatkan bibir seksi-nya ke bibirku. Celana pendekku nampak kencang di bagian anu.

Tante Yuli, namun ciuman. Devi yang lembut dan romantis. Betapa nikmatnya ciuman dari Devi. Aku langsung memeluknya lembut. Tubuh putihnya benar-benar mulus. Bulu vaginanya sekilas kulihat coklat hitam. Sesegera mungkin kulepas celana-celanaku dan Devi dibuka kaosku. Lumayan lama Devi menciumiku dengan posisi membungkuk. 

Kukocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Aku langsung membisikkannya, Dev, kita ke kamarmu yuk ..! Devi menjawab, Ayoo .. biar lebih nyaman. Devi kurebahkan di ranjangnya setelah kugendong dari ruang tamu. Seperti ciuman tadi, kali ini suasananya lebih lembut, romantis dan lembut. Devi sesekali menciumi dan agak menggigit daun telingaku kompilasi aku sedang mencumbu lehernya. 


Devi juga sesekali mencengkeram lenganku dan punggungku. Kaki kanannya diangkat hingga ke pinggangku dan kadang-kadang dia gesek-gesekkan. Dalam pikiranku, mungkin kali ini tidak ejakulasiku selama seperti sama Tante Devi terbawa suasana romantisnya.

Baca Artikel lain di : https://mampir77.blogspot.com

Dari sini aku bisa tahu itu Devi itu tipe orang romantis dan lembut. Tapi tetap saja nafsunya besar. Malah dia langsung diarahkan dan menuukkan penisku ke liang senggamanya tanpa adegan-adegan lain. Berhubung Devi masih perawan, memasukkannya tidak mudah. Butuh sedikit dorongan dan tahan sakit termasuk aku juga. Wajah Devi nampak menahan sakit. Gigi atas menggigit bibir bawahnya dan terpejam keras terus seperti makan buah mangga atau jambu yang asem. Tak lama, “Aaahh .. aa .. aahh ..”

Devi berteriak lumayan keras, aku takutnya terdengar sampai keluar. Selaput perawannya sudah tertembus. Aku mencoba menggoyangkan maju-mundur di dalam liang yang masih mundur itu. Tapi, aku sangat senang sekali senggama di liang perawan. Devi juga ikut goyang maju-mundur sambil meraba-raba dadaku dan mencium bibirku. Ternyata benar dugaku. Sedikit lagi aku akan ejakulasi. Mungkin hanya sekitar 6 menit. Meski begitu, keringatku pun tetap mengucur. Begitupun Devi.

Dengan agak menahan ejakulasi, gantian kurebahkan Devi, kukeluarkan penisku lalu kukocok di atas dadanya. Mungkin terlalu ketat dan rapatnya selaput dara Devi, batang penisku jadi lebih mudah tergesek jadi lebih cepat pula ejakulasinya. Ditambah lagi dalam edisi ini saya tidak dirilis, nonton BF, atau sebagainya. Kemudian, "Crit .. crit .. crott ..

kembali kujatuhkan spermaku di tubuh orang untuk kedua kalinya. Kusemprotkan spermaku di dada dan payudaranya Devi. Kali ini kencrotannya lebih sedikit, namun spermanya lebih kental. Tentang ada hingga Sampai di leher dan dagunya. Devi yang baru pertama kali melihat sperma lelaki, mencoba ingin tahu bagaimana mendapat sperma. Devi meraup sedikit dengan canggung dan mengungkapkan sedikit penglihatan orang jijik, dan lalu menjilatnya,

Terus, Devi berkata dengan lugu, “Emm .. ee .. Vin .. kalo 'itu' gimana sih rasanya?” Sambil menunjuk ke kejantananku yang masih berdiri tegak dan kencang. "Eh .. hmm hmm .. cobain aja sendiri .." sambil tersenyum ia memegang batang kemaluanku dan agak canggung.


ak lama, ia mulai memompa mulutnya malu-malu karena baru kali pertama. Mungkin ia sekalian memakan spermaaku yang masih menetes di sekujur batangku itu. Kulihat sekilas di lubang vaginanya, ada noda darah yang segera dibersihkan dengan tisu dan pangkuan. Setelah selesai, aku sedang menghabiskan stamina, terkulai loyo di ranjang Devi, sementara Devi juga rebahan di samping. Kami sama-sama puas, sebagian besar aku puas menggarap ibu dan kalah itu.



SELESAI

Baca Artikel lain di : https://mampir77.blogspot.com