![]() |
| Bercinta Dengan Mbak Yani Guru Sex ku |
Cerita sex Online 07 | Ini pengalaman kencan seks sebelum aku mengenal internet, membahas kompilasi aku masih duduk di bangku SMA, Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu berumurku masih menginjak 19-20 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku menyambutnya Bu Guru, layaknya seorang murid untuk gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku bercinta, lama-lama aku ditangkapnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?
Sore itu ada anak kecil yang datang mencari rumah. Saya setuju datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik.
Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani, ”ujar anak tetangga Mbak Yani.Agen Poker online
Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering meminta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke gunung gunung dan bercinta di semak-semak hutan, Mbak Yani semakin sering mengajakku pergi. Dan sakit ini dia memintaku datang ke Rumah lagi.
Baca Juga : Diajari Ngentot Oleh Janda Tukang Cuci
Domino QQ Tanpa banyak berpikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, Rumah terbilang cukup jauh, sekitar 5 km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi. Dapat menghabiskan biaya sedang pergi. Betul, kompilasi aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak.
Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang menghadiri acara hajatan saudara di luar kota, ”sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku.
Darahku mendesir kompilasi membuntuti lamngkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa seksi, hanya mirip daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa dicampur.
Anu, Bud .. Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada kabel yang konslet. Tolong betulin, ya .. Kau tak bisa memulai, ”pinta Mbak Yani kemudian.
Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.
Nah saya curiga jaringan di kamar ini rusak. Buruan kau teliti ya. Nanti keburu mahrib. "
Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunut kabel jaringan, akhirnya aku memutuskan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu, kamar tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-mama. Celakanya, saya mencari kabel-kabel, saya belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah. Aku juga tak bisa menemukan kabel yang memungkinkan. Kemudian pindah ke kamar tidur lagi, sampai akhirnya saya harus mengumpulkan kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dilengkapi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, kompilasi hari telah rusak, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Direncanakan, rumah Mbak Yani tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yani.
Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero kota. Tidak bisa, tidak harus berhenti. Aku ingin melanjutkan pekerjaan itu.
Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian atas atap rumah yang kurang beres. Jadi, aku harus membawa tangga khusus, ”jelasku sambil melangkah keluar kamar.
Yah, tak apa-apa. Tapi maaf ya. Aku .. Merepotkanmu, "balas Mbak Yanti," Itu es tehnya diminum dulu. "
Sementara menunggu hujan reda, kami berdua bercakap-cakap berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yang kami tukarkan, termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini. Mbak Yani juga tidak menanyakan pertanyaan indah tulisannya yang dia kirimkan tentang kado ulang tahun lalu beberapa bulan yang lalu.
Entah bagaimana memulai, tahu-tahu nada percakapan kami mengubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelus telingku dan seterusnya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang dibuat tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku mulai masuk akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga memiliki pikiran yang saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.
Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak Yani masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh guru sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yani yang masih lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.
Aaah .. Budi .. Aah ..” Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap dikonsumsi bibirku.
Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin menantang. Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kesenangan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang.
Uuuhh .. Mbak ..” Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku.
Penisku pun bertambah karena memegang tangan Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol. Mbak Yani juga merasakannya, merasa semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami memilih hubungan kami sebagai guru-murid. Ceme Online
Aaauuhh .. Bud .. Uuuh ..” Mbak Yani mendesis-desis dengan Yanirnya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bergerak berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam kenikmatan yang begitu menghebat.
Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana melihat guru sekolahku yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tapi aku segera tersadar, itu pemandangan amboi di hadapannya memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.
Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi Mbak Yani dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan kujilati leher jenjang Mbak Yani, mengikat menggerinjal-gerinjal sambil merintih kecil. Sementara itu, tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yani sehingga menungkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susunya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku. Segera kuelus-elus menaruh susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yani tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan mata. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin menaruh susu Mbak Yani yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.
Uhh .. Hmm ahh .." Mbak Yani tidak bisa menahan desahan-desahan nafsunya.
Semua jari-jemariku yang diterima oleh payudara dan menempatkan susunya dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin membulak-bulak.
Kupegang tali pengikat beha Mbak Yani lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yani. Puting susu Mbak Yani yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Yani. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum bisa mengeluarkan air susu. Mbak Yani menggeliat-geliat karena rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya, tak ayal menggelitiki puting susunya jadi pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan memperbaiki hajaran lidahku.
Oooh. Buud 'desahan Mbak Yani semakin lama semakin keras. Untung saja rumah sedang sepi dan tempatnya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, jadi tidak mungkin ada orang yang mendengarnya.
Belum puas dengan payudara dan puting Mbak Yani yang sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran udara liurku, mulutku sekarang pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat di sebelah kanan kiri tadi, kuperbuat di sisi sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tidak menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan Yanirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yani. Lalu kujilati dan kugelitiki menempatkan susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti menempatkan puting susu yang sebelah kiri tadi. Mbak Yani pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum minuman ringan dengan memakai sedotan plastik,
Aaahh .. Hmm .." Mbak Yani menjerit panjang.
Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak Yani yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans yang Mbak Yani kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans ke bawah sampai ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Yani sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.
Ditransfer oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi, tanpa berpikir panjang, kulepas kain satu-satunya yang masih tersisa Mbak Yani yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.
Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yani di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman. Berulang-ulang dengan lembutnya. Tubuh Mbak Yani yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilanjut oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.
Ooohh ..
Mbak Yani yang mulai dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang ditunjuk klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, jadi usapan-usapan ini sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yani yang semakin merah semakin menambah jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya semakin menggerinjal-gerinjal tak tentu arahnya.
Melihat Mbak Yani yang tampak semakin mudah, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Yani Mbak mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu.
Pula membuka klitoris Mbak Yani, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah, sebab Mbak Yani memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yani, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.
Hmm .. Bud .."
Mbak Yani merintih kecil seraya meringis seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar, yang bergerak jari tengahku bergerak ke dalam vagina Mbak Yani adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya yang masih perawan. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yani, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup menang kehormatannya. Aku sedikit salut sedikit. Dan untuk menghargainya, aku yang memutuskan tidak akan menyelesaikan tindakanku itu.
“Bud .. Jangan berhenti ..” tanya Mbak Yani dengan nafas terengah-engah.
“Mbak, Mbak kan masih perawan. Nanti kalau aku bisa terus Mbak bisa .. ”
Mbak Yani malah menjulurkan malah menggapai selangkanganku. Penisku yang masih ada di celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali. Ternyata melepaskan, lembut, berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tidak bisa membantah apa pun lagi, malah aku suka melupakan apa-apa yang kukatakan barusan.
Dengan memegang kilat, Mbak Yani memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa hanya celana dalamku. Mata Mbak Yani tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku dengan menghabiskan, membuat penisku itu semakin besar dan bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan utama! Semua ini menyangkut rangsangan yang kuterima dari guru sekolahku yang berhasil hebatnya.
"Mbak .. Aku buka dulu ya," tanyaku sambil menanggalkan celana dalamku.
Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar begitu penutupnya terlepas.
"Aw!" Mbak Yani menjerit kaget melihat penisku yang begitu menjulang dan siap tempur.
Namun kemudian ia berhasil mendapatkan penisku itu dan juga lahan itu menggosok-gosok batang 'meriam'-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang mengitarinya lebih jelas terlihat dan batang penisku itu akan menghasilkan laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa pun yang menghalanginya. Kemudian Mbak Yani menarik penisku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah lubang vaginanya.
Sekilas, saya suka sadar. Astaga! Mbak Yani kan guru sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti aku sampai menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti yang tahu aku berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri? Akhirnya aku memutuskan tidak akan melakukan lebih jauh ke dalam vagina Mbak Yani. Kutempelkan ujung penisku ke bibir Mbak Yani, lalu kuputar-putarkan mulut gua tersebut. Mbak Yani menggerinjal-gerinjal merasa senang yang demikian hebatnya juga tidak ada yang tua di dunia ini.
“Aaahh .. Uuuhh ..” Mbak Yani mendesah-desah dengan Yanirnya selama aku sengaja menyentuhkan penisku pada klitorisnya yang kemerahan dan kini kembali membengkak. Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di payudara Mbak Yani itu dengan menempatkan susunya yang menggairahkan. Terlebih payudara guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup dialokasikan jilatan dan lumatanku yang sangat menggila, sehingga tampak mengkilap.
Aku dibuka-buka mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang vagina Mbak Yani. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Penyebab jika sampai kebablasan, tidak mungkin bisa mengoyak selaput daranya. Aku tidak mau melakukan itu, karena Mbak Yani adalah guru sekolahku, darah dagingku sendiri!
Mbak Yani mengejan kompilasi kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung 'tonggak'-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Yani, sehingga membuatku membatalkan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik penisku pelan-pelan dari tanah surgawi milik guru sekolahku itu. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding vagina Mbak Yani membuatku meringis-cincin memegang rasa nikmat yang tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Yani sampai sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai lebih jauh lagi.
Begitu terus kulakukan berulang-ulang dan dikeluarkan setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak Yani. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat. Gesekan-gesekan batang penisku dengan Yaning vagina Mbak Yani semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia ini yang dapat menandingi kesenangan yang sedang kurasakan dalam permainan cintaku dengan guru sekolahku sendiri ini. Kenikmatan yang pertama dengan kesenangan selanjutnya, disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling susul-senang tanpa henti.
Bagaimana cara mengatasi masalah ini? ”Mbak Yani yang semakin tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak menyenangkan, bahkan semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Yani menjadi lupa segala-galanya. Aku pun lupa semua komitmenku tadi.
Dalam beberapa waktu saat penisku tengah menyodok vaginanya Mbak Yani, aku tidak boleh hujamanku itu sebatas selaput daranya seperti biasa, namun sebaliknya membahasnya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang penisku amblas benar-benar dalam vagina Mbak Yani. Vaginanya yang sangat sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang terkungkung.
Mbak Yani menjerit cukup keras kesakitan. Tapi aku tidak menghiraukannya. Lebih tepatnya aku bernafsu untuk memompa penisku semakin dalam dan lebih cepat lagi di dalam vagina Mbak Yani. Memikirkan sakit yang dialami guru sekolahku itu tidak membuatku mengurungkan tindakan setanku. Bahkan genjotan penisku ke dalam lubang vaginanya semakin menggila. Kurasakan, semakin cepat aku memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Yani, dan semakin tiada tandingannya kenikmatan yang kurasakan.
Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Yani terus-menerus terjadi sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Mbak Yani tidak bisa melakukan apa-apa lagi hanya menjerit-jerit tidak karuan. Rupa-rupanya setan telah menciptakan jiwa kami berdua, sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh dua guru dan murid.
Aaah .. Budi .. Aaahh .." Mbak Yani menjerit panjang.
Percayalah ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matanya terpejam sementara keras bergetar dan menggelinjang keras. Mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, guru sekolahku sudah hampir mencapai orgasme. Namun saya tidak mempedulikannya. Aku sendiri belum merasakan apa-apa. Dan lenguhan juga jeritan Mbak Yani semakin membuat tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya semakin menggila lagi. Mbak Yani pun menambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan jeritan berpadu menjadi satu.
Akhirnya kurasakan sesuatu yang paling meluap dari dalam penisku. Namun ini tidak membuatku berhenti penetrasi pada vagina Mbak Yani. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya setelah terasa aku tidak sanggup bertahan orgasmeku, kutarik penisku dari dalam vagina Mbak Yani Cipta kilat. Kemudian dengan tempo yang tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku. Tak lama kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian Mengenai muka Mbak Yani. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian yang lain. Bahkan celaka! Ada pula yang belepotan di sofa jok yang diduduki Mbak Yani.
Tak lama kemudian, kami saling mengejang-ngejang menuju puncak kepuasan bersama hingga kehabisan tenaga. Aku terhempas ke atas sofa di samping Mbak Yani. Tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat dari ujung rambut ke ujung kaki. BandarQQ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar